kekerewe

Perjalanan mencari hidup dimulai ketika langit senja yang menebarkan warna merah merasuki renungan sore. Awan yang membentuk pola menggugah pikiran akan pencarian diri, bumi dan langit, yang berujung pada ke Akbaran ALLAH. Pencarian itu tidak pernah selesai.

Name:
Location: Indonesia

Wednesday, November 21, 2007

Surat Cinta

Hari ini 21 Nopember 2007

Ya Allah,
Hari ini aku mengirimi MU lagi surat cintaku

Aku ingin mengheningkan hati … agar dapat aku rasakan kehadiranMU
Mengisi setiap langkahku dengan menyebut AsmaMU
Merunduk sedalam-dalamnya memandang kedalam hatiku
Tempat dimana aku bisa menemukanMU

Bagaimanakah keadaan Rasulku hari ini?
Bahagiakah dia dengan salam yang aku panjatkan pagi ini?
Senyumnya adalah kerinduanku
Tatapan matanya adalah hasratku

Ya Allah .. Zat yang menggenggam jiwaku
Hingga pada titik apa aku harus menanggung rinduku ini
Sungguh aku memohon, izinkan aku merasakannya hingga akhir hayatku
Hidupkan aku di bumi ini dengan cara mulia dan Matikan aku dengan khusnul khotimah

Ya Allah, Zat yang membolak balik hati
Mengenang sepotong taman surga di Masjid Rasulullah
Mengenang thawaf disekitar ka’bah
Telah membawa keinginanku untuk hadir kembali ke pangkuanMU yang nyaman

Ya Allah, izinkan aku menempati salah satu pemakaman di Baqi
Dalam keadaan suci, diantarkan oleh anak-anak dan suami dengan keikhlasan
Dan melayanglah jiwa yang Engkau ringankan ke hadapanMU
Terimalah roh ini dengan baik ya Allah, Ridho-lah padaku Ya Rabbi …

Inilah surat cintaku ya Rabbi
Engkau tentu banyak menerima surat Cinta,
dan izinkan kami masuk ke dalam barisan Rasulullah,
Karena kami Cinta kepadaMU dan kepada Rasul MU




Hari Ini 20 Nopember 2007

Ya Rasul, kekasihku, kekasih Allah …

Akankah kelak aku mendapatkan kesempatan bertemu dan bersalaman dengan mu?
Mencium tanganmu adalah kerinduanku
Menatap teduhnya matamu yang telah hadir dalam mimpiku adalah hasratku
Akankah aku duduk bersamamu dalam Majelis mu yang mulia?

Perjalanan menuju Istana megah mu bertemankan percikan-percikan rindu yang tumpah setiap kali membaca kisah perjuanganmu
Perjalanan menuju majelismu bertemankan keharuan atas kisah para sahabat yang kelak mendampingimu duduk dalam majelis itu.

Ya Allah, Penggenggam Jiwaku …

Aku Yakin Engkau mendengarkan jeritan rinduku padaMu ya Allah
Kunjunganku ke Rumah mu yang mulia telah menjadi media yang membuat hatiku berkabut dan mataku menyambutnya dengan air mata.
Setiap kali undangan itu disebut : Labbaika Allahumma Labbaik … Labbaika laa syarikalaaka Labbaik …, jantungku bergidik … Aku MerindukanMU ya Allah …

Tidak sudi rasanya menjadikan Mekah sebagai berhala di dalam hatiku, karena sesungguhnya kepadaMU lah aku merindu.
Ingatan pada kesungguhan kami mencariMU berlari-lari antara safa dan Marwa, kelelahan dan kenikmatannya, telah mencabut seluruh kerinduanku serasa ingin kembali kesana saat ini juga.

Wednesday, November 07, 2007

Selangkah Mendekat

Benarlah apa yang dikatakan Sang penggenggam jiwaku Allah SWT :
"Bila manusia mendekat selangkah, maka Aku akan mendatanginya sehasta"
Derasnya ilmu mengenai EksistensiNya semakin nyata.
Meskipun hanya melalui buku-buku dan berguru kepada Aidh Al Qarni, aku merasa semakin miskin dan haus akan pengetahuan mengenai KeberadaanNya dan keberadaanku, makhluk ciptaanNya.

Jauh jiwa ini merasa miskin, umurku sudah 34 tahun dan aku baru sedikit mengerti agamaku.
Dalam pengertian yang sedikit itu, aku mulai melihat bagaimana orang-orang yang pernah aku pertanyakan keislaman dan keimanannya ternyata sudah mencapai pemahaman yang tidak sebanding dengan pemahamanku ketika itu. Aku pernah bertanya Mengapa Imam Samudra dan Amrozi harus melakukan pemboman untuk menunjukkan jalan perjuangannya? Sekarang aku mengerti dan memaklumi pemahaman yang aku temukan setelah aku memutuskan untuk berhijrah.
Aku pernah berpikir apakah tidak sulit dan tidak panas menggunakan kerudung panjang dan baju panjang-panjang itu? Betapa naif-nya aku, setelah hijab itu terangkat, aku memutuskan untuk berhijrah, aku merasa nikmat. Ternyata aku menemukan bahwa semakin panjang jilbab semakin mudah tubuh dan jiwa yang tersembunyi di dalamnya berinteraksi tanpa perlu khawatir mata dan pandangan orang lain. Sungguh Allah-lah yang Maha Memelihara sesuatu.
Aku pernah merasa lelah harus puasa dan melakukan shalat pada waktu-waktu tertentu. Sungguh merugi aku, setiap ibadah tambahan yang aku lakukan aku merasa semakin nikmat, senikmat makanan, aku merindukan waktu untuk melakukan ibadah itu. Pantaslah aku menemukan ada orang-orang yang tidak berhenti melakukannya, tanpa pernah merasa lelah. Ternyata mereka justru merasakan kenikmatan itu ... Subhanallah ...
Ibadah yang paling aku cintai adalah bersedekah. Ketika aku diajarkan untuk menabung dan tidak berfoya-foya, maka aku merasa kelelahan untuk menabung dan ketakutan untuk berfoya-foya. Setelah mengenal Sedekah, Zakat dan mengikhlaskan, tak ada lagi kekhawatiran dalam diri. Segalanya lapang dan mudah. Satu hal yang selalu aku katakan pada diriku, aku tidak berhak menahan harta apapun yang ada padaku, Allah-lah pemilik segala yang ada pada ku, segala yang ada pada Dunia yang luas ini. Sungguh malu aku bila ada sedikit saja perasaan bahwa segala yang ada padaku adalah milikku ... Astaghfirullahulazhiim
Baru sekali aku melakukan perjalanan Umroh, dan Haji adalah kerinduanku. Dengan segenap campur aduknya rasa ... kerdil dan tidak ada artinya aku bersimpuh didalam Nabawi dan Masjidil Haram. Aku hanya debu Ya Allah, pandanglah kami, sudilah pandang kami Ya Allah ...

Ini adalah curahan hati, tanpa berniat riya dan sombong. Sungguh Iman itu nikmat dan mengisi rongga kosong dalam dada kita. Sebelum kematian menjemput, sayang sekali bila tidak merasakan nikmatnya iman selama kita berada di dunia ... carilah, mintalah dengan sepenuh hati kepada Allah, dan Dia akan mendatangkannya. Amiiin