Warna Warni Kereta Pagi
Senantiasa warna warni yang disodorkan padaku pagi hari memberi nuansa sendiri di hati. Anehnya aku yang tidak menyukai keseragaman belakangan mulai memahami asik dan lucunya keseragaman yang tidak dipaksakan.
Hampir setiap pagi kereta Depok - Tanah Abang yang aku tunggu bersama ratusan karyawan lainnya terlambat datang. Aku yang pada awalnya hanya mencari-cari pola yang ada dengan mudahnya menghafal segala ritual yang aku ciptakan sendiri dan juga dimiliki oleh yang lainnya. Turun dari mobil berlari ke loket, memberikan senyuman pada petugas loket yang dengan sigap memberikan tiket dan memberitakan kereta sedang berada dimana ucapan terimakasihku dijawab dengan kalimat hati-hati .. hmmm, lalu memberikan sisa uang tiket kepada peminta-minta, melompati tangga di atas sudah menunggu pedagang koran langganan yang dengan sigap juga memberitakan kereta sudah berada dimana sembari memberikan kembalian. Pedagang nasi uduk atau lontong sayur menerima kehadiranku dengan pelayanan ekspress, makan pagi dengan nikmat ketika kereta datang aku dengan sigap melompat ke dalam kereta, dan seperti biasa ... aku memilih tidak berebut untuk mendapatkan kursi. Kereta bergerak menuju stasiun Sudirman... hhhhh kerja lagi
Hal yang menyenangkan adalah aku tidak sendiri melakukan hal yang sama setiap pagi. Aku bahkan hafal orang-orang yang suka memilih gerbong depan bersama ku. Dan orang-orang yang suka memilih gerbong belakang tapi pindah ke gerbong depan ketika kereta mendekati Stasiun Sudirman. Aku tidak banyak membangun relasi meskipun setiap hari bertemu.
Aku justru kagum pada sahabatku yang bernama Joan. Hampir setiap aku bertemu dia sedang dengan seorang teman lainnya yang tidak satu kantor dengan kami. Setiap hari suaranya yang besar menggelar perbincangan hangat dengan orang-orang satu gerbong yang berbeda kantor. Hebat sekali relasi yang dibangunnya hingga dia membuatku merasa minder berada di gerbong yang sama.
Ketika musim hujan turun, ac kereta tidak berkurang kekuatannya. Kehangatan nafas dikalahkan oleh udara dingin dan mungkin itu yang menyebabkan keseragaman pola berpakaian juga disesuaikan oleh para penumpang kereta. Musim panas, baju-baju santai dan blazer tipis. Musim hujan, sweater hangat, jaket dan blazer menjamur.
Pola aktivitas, bacaan, cerita, pakaian dan makanan yang sama membuat aku hafal apa yang akan aku temui besok di stasiun kereta. Bahkan peminta-minta hafal giliran siapa besok yang akan memperoleh sesuatu dari jemariku tanpa terlihat iri mereka melemparkan senyum
Indahnya kehidupan berkereta, membuatku bisa melupakan ketinggian hati, bisa membuatku merasa aman dengan kepastian yang ada. Keterlambatan itu sudah pasti, kereta rusak itu istimewa karena selalu ada cerita menarik ketika sedang mengamati orang-orang.
Hampir setiap pagi kereta Depok - Tanah Abang yang aku tunggu bersama ratusan karyawan lainnya terlambat datang. Aku yang pada awalnya hanya mencari-cari pola yang ada dengan mudahnya menghafal segala ritual yang aku ciptakan sendiri dan juga dimiliki oleh yang lainnya. Turun dari mobil berlari ke loket, memberikan senyuman pada petugas loket yang dengan sigap memberikan tiket dan memberitakan kereta sedang berada dimana ucapan terimakasihku dijawab dengan kalimat hati-hati .. hmmm, lalu memberikan sisa uang tiket kepada peminta-minta, melompati tangga di atas sudah menunggu pedagang koran langganan yang dengan sigap juga memberitakan kereta sudah berada dimana sembari memberikan kembalian. Pedagang nasi uduk atau lontong sayur menerima kehadiranku dengan pelayanan ekspress, makan pagi dengan nikmat ketika kereta datang aku dengan sigap melompat ke dalam kereta, dan seperti biasa ... aku memilih tidak berebut untuk mendapatkan kursi. Kereta bergerak menuju stasiun Sudirman... hhhhh kerja lagi
Hal yang menyenangkan adalah aku tidak sendiri melakukan hal yang sama setiap pagi. Aku bahkan hafal orang-orang yang suka memilih gerbong depan bersama ku. Dan orang-orang yang suka memilih gerbong belakang tapi pindah ke gerbong depan ketika kereta mendekati Stasiun Sudirman. Aku tidak banyak membangun relasi meskipun setiap hari bertemu.
Aku justru kagum pada sahabatku yang bernama Joan. Hampir setiap aku bertemu dia sedang dengan seorang teman lainnya yang tidak satu kantor dengan kami. Setiap hari suaranya yang besar menggelar perbincangan hangat dengan orang-orang satu gerbong yang berbeda kantor. Hebat sekali relasi yang dibangunnya hingga dia membuatku merasa minder berada di gerbong yang sama.
Ketika musim hujan turun, ac kereta tidak berkurang kekuatannya. Kehangatan nafas dikalahkan oleh udara dingin dan mungkin itu yang menyebabkan keseragaman pola berpakaian juga disesuaikan oleh para penumpang kereta. Musim panas, baju-baju santai dan blazer tipis. Musim hujan, sweater hangat, jaket dan blazer menjamur.
Pola aktivitas, bacaan, cerita, pakaian dan makanan yang sama membuat aku hafal apa yang akan aku temui besok di stasiun kereta. Bahkan peminta-minta hafal giliran siapa besok yang akan memperoleh sesuatu dari jemariku tanpa terlihat iri mereka melemparkan senyum
Indahnya kehidupan berkereta, membuatku bisa melupakan ketinggian hati, bisa membuatku merasa aman dengan kepastian yang ada. Keterlambatan itu sudah pasti, kereta rusak itu istimewa karena selalu ada cerita menarik ketika sedang mengamati orang-orang.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home