kekerewe

Perjalanan mencari hidup dimulai ketika langit senja yang menebarkan warna merah merasuki renungan sore. Awan yang membentuk pola menggugah pikiran akan pencarian diri, bumi dan langit, yang berujung pada ke Akbaran ALLAH. Pencarian itu tidak pernah selesai.

Name:
Location: Indonesia

Tuesday, May 30, 2006

Perjalanan kerewe



Entah apa artinya kerewe, yang pasti, ketika sedang musim Ospek di SMA, nama ini besar-besar tertulis di dadaku sebagai pemberian dari senior. Ospek tidak pernah menyenangkan, ada penindasan di dalamnya, tapi kenangan yang tersisa, adalah kenangan indah. Menjadi anggota dalam sebuah gank, bercerita, menjadi pusat perhatian, hukuman dalam ruangan guru, menggoda, menertawai, menjahili dan bepergian bersama. Terlalu banyak hal yang indah sehingga bila ingin mengulang sejarah, bagian itu dalam hidupku yang ingin ku ulangi.
Proses tumbuh yang menyenangkan, terutama karena narkoba tidak mendekati kami ketika itu, dan tidak ada rasa benci yang ditanamkan untuk kelompok lain. Persahabatan yang tulus dan saling menyayangi.

Ketika bertemu kembali hampir 15 tahun kemudian, aku mengagumi perkembangan teman-temanku hampir semua menjadi orang-orang yang seperti aku duga ketika kami bersama dulu. Meskipun ada yang perjalanan hidupnya sungguh diluar dugaan. Komunitas SMA Cendana, menjadi bagian dari komunitas ini sungguh membanggakan dan membahagiakan. Meskipun banyak orang menikmati masa-masa SMA-nya tapi aku merasa pengalamanku sungguh istimewa. Teman-temanku sungguh membanggakan, dan mereka tidak ingin saling melupakan. Kesibukan tentu saja ada, tapi siapa yang tega melupakan kenangan indah yang pernah ada? Meskipun tidak mungkin kembali, setidaknya kami ingin kembali memberikan kejutan-kejutan indah dalam hati ketika mengenang setiap detil sejarah dan mengenang persepsi sahabat-sahabat atas peristiwa yang dilalui itu.

Melamun sendiri ketika jam makan siang di Twin Palm Menara Jamsostek lantai 9, diterpa tiupan angin aku menyaksikan sekelompok orang tertawa-tawa dalam cerita mereka. Aku mengenang setiap kesenangan yang pernah kulalui dalam Komunitas SMA Cendana dan seperti sahabat-sahabat yang lain aku tidak akan rela melewatkan pertemuan dengan mereka begitu saja.

Friday, May 19, 2006

Enam Tahun, 20 mei 2006

Baru enam tahun ..
Usia kita masih pendek, belum teruji, belum pasti
Tapi kita yakin kita bisa tetap melangkah

Aku tersenyum setiap mengenang kelucuanmu
Aku kesal setiap mengenang kejelekanmu
Aku meradang setiap melihat ketidakpedulianmu
Dan aku merasa ... aku ingin tetap bersamamu

Ingin menjalani hidup bersamamu hingga batasnya nanti
Ingin menjalani hari bersama anak-anak kita
Ingin bertengkar dan bercanda seperti hari-hari yang kita jalani
Mari kita lewati tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang ...

Aku tidak punya hadiah istimewa kecuali tulisanku ini
Aku berharap engkau tetap ada dalam relung hatiku,
setiap kali ada kesempatan untuk berkhianat, deringan telephone dari mu menjagaku
Aku setia padamu, karena aku ingin setia ...

Suamiku, papi dari anak-anakku
semoga kita diberi umur cukup banyak untuk membesarkan anak-anak kita ...

Puzzle, 20

Indah, itulah yang aku rasakan ketika sahabatku bercerita bahwa salah satu dosennya pernah bercerita mengenai Puzzle. Dosen psikologi UI itu senantiasa bercerita dengan perasaannya sehingga sahabatku-pun menerima cerita itu dengan rasa.

Bercerita mengenai pasangan, hidup bersama pasangan itu seperti menyusun kepingan puzzle dalam hati kita, satu persatu kepingan puzzle itu diletakkan ditempatnya. Untuk menyusun puzzle tersebut dibutuhkan 50 kepingan, ternyata ketika kita menyusunnya kita menemukan hanya ada 49 kepingan yang bisa dipasang, sedangan satu keping lagi tidak dimiliki oleh pasangan kita. Kepingan terakhir itu tidak pernah ditemukan hingga tiba-tiba seseorang hadir dan dia memberikan kepingan terakhir itu. Kepingan terakhir itu jumlahnya hanya satu tapi seolah-olah orang ketiga yang hadir tersebut telah melengkapi dan memberi kesempurnaan atas seluruh puzzle yang harus dibentuk. Hanya karena satu kepingan tersebut, orang sering lupa bahwa dia telah memiliki 49 kepingan puzzle lainnya dari pasangan hidupnya.

Aku sedang menata puzzle di hatiku, aku pernah memiliki seseorang yang bisa memberikan satu kepingan puzzle yang tak bisa diberikan suamiku, dan ketika aku bertanya, mengapa aku bermimpi? temanku berkata, aku sedang mencari kepingan puzzle itu ...
Terimakasih atas ceritamu sahabat, aku tidak membutuhkan kepingan puzzle itu, aku akan terima bentuk puzzleku apa adanya. Dan bila naluri kebutuhan itu memanggilku aku akan menjawabnya sendiri. Dia bukan lagi pemilik kepingan puzzle itu, aku bisa menemukannya dari sahabat-sahabatku, hanya kebutuhan bercerita dan membangun theory, banyak yang bisa aku ajak berdiskusi, dan perlahan-lahan suamiku juga mulai mau mendengarkan celotehku meskipun waktunya begitu pendek untuk mendengarkan teori-teoriku.... :-)

Monday, May 01, 2006

Jagad


Jagad yang bergembira seperti cuaca cerah
Paginya merekah
Siangnya tidak panas
Sorenya indah
Malamnya bintang terlihat jelas

Jagad yang bersedih seperti musim hujan yang tiba-tiba datang
Tanpa diduga air mengalir deras
Membawa hanyut rasa dan kekhawatiran
Terkadang merusak dan menimbulkan rasa kasihan

Jagad yang marah seperti gunung meletus
Melelehkan apa yang ada disekitarnya
Menarik perhatian dunia
Tak ada yang sanggup berargumentasi

Jagad yang penyayang seperti pagi yang penuh embun
Memeluk dengan lembut
Mengecup dengan segenap rasa
Memandang dengan kasih sayang
Memberikan seluruh kesejukan

Jagad ... mengingatmu seperti memberi peringatan
Akan rasa syukur yang harus kami panjatkan
atas kehadiranmu dalam hari-hari kami