kekerewe

Perjalanan mencari hidup dimulai ketika langit senja yang menebarkan warna merah merasuki renungan sore. Awan yang membentuk pola menggugah pikiran akan pencarian diri, bumi dan langit, yang berujung pada ke Akbaran ALLAH. Pencarian itu tidak pernah selesai.

Name:
Location: Indonesia

Friday, January 27, 2006

Kekhawatiran Mama

Tadi malam,
suara mama tersedu menyentuh kalbuku
"mama ingat nanda ... " bisiknya
"Nanda baik-baik aja nak?"

Tentu saja aku tersenyum
Sesungguhnya aku sedang melamun
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan
Tidak ada yang perlu dicemaskan

Gundahku juga mengenai hal yang sama
Berkali-kali aku berpikir mengenai duka
Lara yang memang dimiliki manusia
Resah yang memang ada dalam dada

Kematian adalah kewajiban
Tapi siapa yang mendapat tiket pertama
Kematian tidak ada urutan
Besok aku atau dia ?

Dengan siapa jagad akan bercanda
Dengan siapa suamiku akan bercerita
Pada siapa orang tua bertanya
Pada siapa saudara meminta

Aku ingin hidup seribu tahun lagi
begitu kata khairil anwar
Aku tidak ingin hidup seribu tahun lagi
cukuplah bila semua terlihat wajar

Yang muda mendahului yang tua
Adalah rasa sakit yang tersisa
Bila yang tua tiba masanya
Yang muda lebih siap menerimanya

Setiap hari aku menanti
Apakah hari ini adalah hariku ?
Setiap hari ada saja yang pergi
Hingga tiba masa itu ...

Jangan resah mama ...
Kita semua akan kesana,
Siap atau tidak siap kita ...
Ingat saja disana ada surga ...

Wednesday, January 25, 2006

Pertemuan para Sahabat

Sahabat ...
Hari ini aku merindukan setiap tawamu
Hari ini aku merindukan tatapan matamu
Hari ini aku merindukan ceritamu

Ingatlah setiap tawa yang kita bagi
Saat tak ada beban mendera hati
Ingatlah setiap duka yang kita bagi
Saat bunda dan saudara tak ada disini

Ketika menjelang dewasa aku mengenal Yessy
Kepolosannya sering menjadi tertawaanku
Kecantikannya menumbuhkan rasa iriku
Kebaikan hatinya menjadi guruku
Kami bercerita dalam bahasa ibu
Bahkan bunda kami berdua mengaku
bahwa kami adalah satu ibu
Tumbuh menjadi dewasa bukan anganku
Tapi yessy mengajakku
Hingga setiap aku berdandan aku teringat sahabatku
Yessy masih ada disini menjadi bagian dari kalbu

Saat yang ada hanya diri sendiri
Allah mempertemukanku dengan Yaniarti
Ketika aku menatapnya aku seperti menatap diri sendiri
Tawanya menggelegar dan gerak tangannya harmoni
Aku dan yani seperti satu bentuk
Ketika orang bertemu yani mereka akan bertanya tentangku
begitu pula bila bertemuku akan bertanya tentangnya
Bahkan hingga menjalani pernikahan ini
Kami banyak menertawakan betapa kembarnya kisah kami
Yani seperti aku, kami adalah awan
Bergerak, meniup dan tidak pernah berhenti
Semangat tidak pernah menyerah ada dalam diri kami
Yani senantiasa disini didalam hati

Ketika menjadi manusia dewasa
Aku mengenal Ayin
Wanita cantik dan eksklusif
Manja dan ramah, dengan
Rambut blonde yang jadi kebanggannya
Bersahabat dengan ayin
Seperti bersahabat dengan selebritis
Dia mengenal hampir banyak orang yang tidak aku kenal
Ayin menjadi dosenku
Sekaligus tempat berkeluh kesah tentang kerja
Ayin yang repot, Ayin yang super sibuk
Ayin dan aku berbagi berita dan cerita
Sekali waktu kami mencuri jam kerja
Untuk Ha ... Ha... hi ... hi ... bersama
Aku dan masa laluku
Ayin dan masa lalunya
Ayin senantiasa ada, bagi jiwa

Seperti ku
ketiga sahabatku
memiliki rahasia
hanya kami yang mengetahuinya

Seperti ku
ketiga sahabatku
membagi cintanya
untuk suami dan putra putri tercinta

Ketiga sahabatku kelak akan bertemu
Ketika mengantarkan jasadku
Pemakaman menjadi tempat pertemuan
Dan mereka akan melanjutkan persahabatan

Wednesday, January 18, 2006

Warna Warni Kereta Pagi

Senantiasa warna warni yang disodorkan padaku pagi hari memberi nuansa sendiri di hati. Anehnya aku yang tidak menyukai keseragaman belakangan mulai memahami asik dan lucunya keseragaman yang tidak dipaksakan.
Hampir setiap pagi kereta Depok - Tanah Abang yang aku tunggu bersama ratusan karyawan lainnya terlambat datang. Aku yang pada awalnya hanya mencari-cari pola yang ada dengan mudahnya menghafal segala ritual yang aku ciptakan sendiri dan juga dimiliki oleh yang lainnya. Turun dari mobil berlari ke loket, memberikan senyuman pada petugas loket yang dengan sigap memberikan tiket dan memberitakan kereta sedang berada dimana ucapan terimakasihku dijawab dengan kalimat hati-hati .. hmmm, lalu memberikan sisa uang tiket kepada peminta-minta, melompati tangga di atas sudah menunggu pedagang koran langganan yang dengan sigap juga memberitakan kereta sudah berada dimana sembari memberikan kembalian. Pedagang nasi uduk atau lontong sayur menerima kehadiranku dengan pelayanan ekspress, makan pagi dengan nikmat ketika kereta datang aku dengan sigap melompat ke dalam kereta, dan seperti biasa ... aku memilih tidak berebut untuk mendapatkan kursi. Kereta bergerak menuju stasiun Sudirman... hhhhh kerja lagi
Hal yang menyenangkan adalah aku tidak sendiri melakukan hal yang sama setiap pagi. Aku bahkan hafal orang-orang yang suka memilih gerbong depan bersama ku. Dan orang-orang yang suka memilih gerbong belakang tapi pindah ke gerbong depan ketika kereta mendekati Stasiun Sudirman. Aku tidak banyak membangun relasi meskipun setiap hari bertemu.
Aku justru kagum pada sahabatku yang bernama Joan. Hampir setiap aku bertemu dia sedang dengan seorang teman lainnya yang tidak satu kantor dengan kami. Setiap hari suaranya yang besar menggelar perbincangan hangat dengan orang-orang satu gerbong yang berbeda kantor. Hebat sekali relasi yang dibangunnya hingga dia membuatku merasa minder berada di gerbong yang sama.
Ketika musim hujan turun, ac kereta tidak berkurang kekuatannya. Kehangatan nafas dikalahkan oleh udara dingin dan mungkin itu yang menyebabkan keseragaman pola berpakaian juga disesuaikan oleh para penumpang kereta. Musim panas, baju-baju santai dan blazer tipis. Musim hujan, sweater hangat, jaket dan blazer menjamur.
Pola aktivitas, bacaan, cerita, pakaian dan makanan yang sama membuat aku hafal apa yang akan aku temui besok di stasiun kereta. Bahkan peminta-minta hafal giliran siapa besok yang akan memperoleh sesuatu dari jemariku tanpa terlihat iri mereka melemparkan senyum
Indahnya kehidupan berkereta, membuatku bisa melupakan ketinggian hati, bisa membuatku merasa aman dengan kepastian yang ada. Keterlambatan itu sudah pasti, kereta rusak itu istimewa karena selalu ada cerita menarik ketika sedang mengamati orang-orang.

Monday, January 16, 2006

Cinta yang Mulia

Mendung tebal ini membawa mendung di hati
Mendung tebal ini juga membawa cemas di hati
ketika hampa hati membawa diri
terombang ambing dalam jejak sendiri

Begitulah rasa berfluktuasi
seperti naik turunnya iman
ketika cinta, cinta dan cinta
apa yang ada di dada segera bergelora

Gelora cinta pada dia
lalu melanjutkan aliran pada dia
tiba pada dia
akhirnya menemukan dia

Tapi masih ada dia yang lain
siapa itu yang ikut mengetuk
sehingga kepalaku menoleh
terpaku pada aliran rasa yang berbeda pula

Pencarian itu tiba-tiba
sampai pada rasa cinta
yang paling mulia

Kutemukan pada malam
ketika sujud tahajjud
aku merasakan CintaNya

Saksikan pagi anakku

Subuh yang indah
Saat matahari menyeruak masuk
Saat rasa dingin berganti hangat
Saat bising suara kendaraan mulai memecah kesunyian

Gedung-gedung itu tertutup
Entah kabut, entah asap polusi
Tapi pagi yang indah memunculkan bayangan gedung
Serupa siluet berwarna abu-abu muda

Pagi menyeruak di Jakarta
Beberapa saat lagi jalanan di bawah gedung ini akan dibanjiri kendaraan
Jakarta yang tak pernah berhenti
Seperti waktu yang belum juga berhenti

Bila saatnya waktuku terhenti
Aku tak lagi menemukan pagi
Aku berpesan pada putraku
Saksikanlah kehadiran pagi setiap hari
Karena geliat pagi akan memberi mu semangat
Untuk meraih rezeki hari ini

(Pagi jam setengah enam sebelum berangkat ke Anyer, wisma mulia lt.17 16 maret 2005)

Jari jemari

Jari jemari itu indah ...
Putih bersih dan bergerak berirama
seiring intonasi suara yang bergerak naik turun
lembut membuyarkan konsentrasiku

Aku adalah kupu-kupu
yang ingin menyentuh jari jemari itu
sekedar beristirahat
dan melanjutkan perjalananku

Dalam irama rindu sendiri
perjalanan yang panjang
pencarian yang tiada akhir
Dimana tempatku beristirahat?

Aku hanyalah kupu-kupu
umur singkatku
tidak memberiku kesempatan
merasakan lembutnya jemari

Selamat tinggal jemari yang indah
Melihat dari kejauhan saja sudah cukup bagiku
karena aku hanya kupu-kupu
dan kupu-kupu tidak berhak atas jemarimu

Friday, January 13, 2006

Pijar Kaki Langit

Bila kelak ada seorang bayi lagi terlahir dari rahimku,
pijar kaki langit aku pilihkan untuk namanya
pijar yang menjadi cahaya di batas kaki langit yang tidak terlihat
Doaku adalah anak ku kelak menjadi cahaya

Indahnya cahaya adalah bias bias warna yang berpendar
berpadu memberikan petunjuk atas kegelapan
menapaki jalan dalam hiasan cahaya
yang berasal dari pijar