kekerewe

Perjalanan mencari hidup dimulai ketika langit senja yang menebarkan warna merah merasuki renungan sore. Awan yang membentuk pola menggugah pikiran akan pencarian diri, bumi dan langit, yang berujung pada ke Akbaran ALLAH. Pencarian itu tidak pernah selesai.

Name:
Location: Indonesia

Friday, July 10, 2009

Tanah

dan hidup ini benar-benar singkat ...
dimana semua kesombongan dan harga diri itu?
di dalam tanah ... tempat dimana awal dan akhir berada ...

Wednesday, November 21, 2007

Surat Cinta

Hari ini 21 Nopember 2007

Ya Allah,
Hari ini aku mengirimi MU lagi surat cintaku

Aku ingin mengheningkan hati … agar dapat aku rasakan kehadiranMU
Mengisi setiap langkahku dengan menyebut AsmaMU
Merunduk sedalam-dalamnya memandang kedalam hatiku
Tempat dimana aku bisa menemukanMU

Bagaimanakah keadaan Rasulku hari ini?
Bahagiakah dia dengan salam yang aku panjatkan pagi ini?
Senyumnya adalah kerinduanku
Tatapan matanya adalah hasratku

Ya Allah .. Zat yang menggenggam jiwaku
Hingga pada titik apa aku harus menanggung rinduku ini
Sungguh aku memohon, izinkan aku merasakannya hingga akhir hayatku
Hidupkan aku di bumi ini dengan cara mulia dan Matikan aku dengan khusnul khotimah

Ya Allah, Zat yang membolak balik hati
Mengenang sepotong taman surga di Masjid Rasulullah
Mengenang thawaf disekitar ka’bah
Telah membawa keinginanku untuk hadir kembali ke pangkuanMU yang nyaman

Ya Allah, izinkan aku menempati salah satu pemakaman di Baqi
Dalam keadaan suci, diantarkan oleh anak-anak dan suami dengan keikhlasan
Dan melayanglah jiwa yang Engkau ringankan ke hadapanMU
Terimalah roh ini dengan baik ya Allah, Ridho-lah padaku Ya Rabbi …

Inilah surat cintaku ya Rabbi
Engkau tentu banyak menerima surat Cinta,
dan izinkan kami masuk ke dalam barisan Rasulullah,
Karena kami Cinta kepadaMU dan kepada Rasul MU




Hari Ini 20 Nopember 2007

Ya Rasul, kekasihku, kekasih Allah …

Akankah kelak aku mendapatkan kesempatan bertemu dan bersalaman dengan mu?
Mencium tanganmu adalah kerinduanku
Menatap teduhnya matamu yang telah hadir dalam mimpiku adalah hasratku
Akankah aku duduk bersamamu dalam Majelis mu yang mulia?

Perjalanan menuju Istana megah mu bertemankan percikan-percikan rindu yang tumpah setiap kali membaca kisah perjuanganmu
Perjalanan menuju majelismu bertemankan keharuan atas kisah para sahabat yang kelak mendampingimu duduk dalam majelis itu.

Ya Allah, Penggenggam Jiwaku …

Aku Yakin Engkau mendengarkan jeritan rinduku padaMu ya Allah
Kunjunganku ke Rumah mu yang mulia telah menjadi media yang membuat hatiku berkabut dan mataku menyambutnya dengan air mata.
Setiap kali undangan itu disebut : Labbaika Allahumma Labbaik … Labbaika laa syarikalaaka Labbaik …, jantungku bergidik … Aku MerindukanMU ya Allah …

Tidak sudi rasanya menjadikan Mekah sebagai berhala di dalam hatiku, karena sesungguhnya kepadaMU lah aku merindu.
Ingatan pada kesungguhan kami mencariMU berlari-lari antara safa dan Marwa, kelelahan dan kenikmatannya, telah mencabut seluruh kerinduanku serasa ingin kembali kesana saat ini juga.

Wednesday, November 07, 2007

Selangkah Mendekat

Benarlah apa yang dikatakan Sang penggenggam jiwaku Allah SWT :
"Bila manusia mendekat selangkah, maka Aku akan mendatanginya sehasta"
Derasnya ilmu mengenai EksistensiNya semakin nyata.
Meskipun hanya melalui buku-buku dan berguru kepada Aidh Al Qarni, aku merasa semakin miskin dan haus akan pengetahuan mengenai KeberadaanNya dan keberadaanku, makhluk ciptaanNya.

Jauh jiwa ini merasa miskin, umurku sudah 34 tahun dan aku baru sedikit mengerti agamaku.
Dalam pengertian yang sedikit itu, aku mulai melihat bagaimana orang-orang yang pernah aku pertanyakan keislaman dan keimanannya ternyata sudah mencapai pemahaman yang tidak sebanding dengan pemahamanku ketika itu. Aku pernah bertanya Mengapa Imam Samudra dan Amrozi harus melakukan pemboman untuk menunjukkan jalan perjuangannya? Sekarang aku mengerti dan memaklumi pemahaman yang aku temukan setelah aku memutuskan untuk berhijrah.
Aku pernah berpikir apakah tidak sulit dan tidak panas menggunakan kerudung panjang dan baju panjang-panjang itu? Betapa naif-nya aku, setelah hijab itu terangkat, aku memutuskan untuk berhijrah, aku merasa nikmat. Ternyata aku menemukan bahwa semakin panjang jilbab semakin mudah tubuh dan jiwa yang tersembunyi di dalamnya berinteraksi tanpa perlu khawatir mata dan pandangan orang lain. Sungguh Allah-lah yang Maha Memelihara sesuatu.
Aku pernah merasa lelah harus puasa dan melakukan shalat pada waktu-waktu tertentu. Sungguh merugi aku, setiap ibadah tambahan yang aku lakukan aku merasa semakin nikmat, senikmat makanan, aku merindukan waktu untuk melakukan ibadah itu. Pantaslah aku menemukan ada orang-orang yang tidak berhenti melakukannya, tanpa pernah merasa lelah. Ternyata mereka justru merasakan kenikmatan itu ... Subhanallah ...
Ibadah yang paling aku cintai adalah bersedekah. Ketika aku diajarkan untuk menabung dan tidak berfoya-foya, maka aku merasa kelelahan untuk menabung dan ketakutan untuk berfoya-foya. Setelah mengenal Sedekah, Zakat dan mengikhlaskan, tak ada lagi kekhawatiran dalam diri. Segalanya lapang dan mudah. Satu hal yang selalu aku katakan pada diriku, aku tidak berhak menahan harta apapun yang ada padaku, Allah-lah pemilik segala yang ada pada ku, segala yang ada pada Dunia yang luas ini. Sungguh malu aku bila ada sedikit saja perasaan bahwa segala yang ada padaku adalah milikku ... Astaghfirullahulazhiim
Baru sekali aku melakukan perjalanan Umroh, dan Haji adalah kerinduanku. Dengan segenap campur aduknya rasa ... kerdil dan tidak ada artinya aku bersimpuh didalam Nabawi dan Masjidil Haram. Aku hanya debu Ya Allah, pandanglah kami, sudilah pandang kami Ya Allah ...

Ini adalah curahan hati, tanpa berniat riya dan sombong. Sungguh Iman itu nikmat dan mengisi rongga kosong dalam dada kita. Sebelum kematian menjemput, sayang sekali bila tidak merasakan nikmatnya iman selama kita berada di dunia ... carilah, mintalah dengan sepenuh hati kepada Allah, dan Dia akan mendatangkannya. Amiiin

Thursday, October 04, 2007

Undangan Yang Mulia

Yaa Allah, diantara seluruh ummatMU,
Tentulah dia yang merasakan paling lelah, sangat lelah ...
Yaa Allah, diantara seluruh manusia yang Engkau ciptakan
Tentulah dia yang paling tabah, sangat tabah ...

Dia harus menyeru ... dalam kesulitan, pembuangan, siksa dan nestapa
Betapa besar cinta itu dalam hatinya ... kepadaMu, kepada Ummatnya ...
Tanpa perjuangan gigihnya, tentu hamba tidak bisa
Merasakan nikmatnya cintaMu yaa Allah ...

Dari sekelumit kecil Suku Quraisy, dari keturunan sang Pengabdi Bani Hasyim
Dia kembangkan ajaran yang sangat mulia, hingga bertemu kepada hamba yang jauh ini ..

Lihatlah betapa rindunya Hamba untuk kembali ke rumah hitam yang Mulia itu
Mendesak dada, padahal sesungguhnya Hamba merindukanMu

Engkau ada dimana-mana, tapi Masjid Rasulullah dan tempat Thawaf yang dibangun Ibrahim
telah menempelkan maghnit kerinduan yang begitu besar dalam hati hamba.

Hamba berterimakasih atas undangan yang mulia
Hamba berterimakasih atas perjalanan indah ini
Engkau pertemukan hamba dengan jejak Rasulullah sepanjang perjalanan hingga kembali
Engkau perlihatkan betapa kuasaMu sungguh tak terhingga

Thursday, July 26, 2007

Jawablah Kerinduanku


Ya Rabb ...
Jawablah Umrah yang akan kami lakukan
Dengan segenap jiwa yang ada di dalam tubuh
Akan ku sentuh ke agungan MU

Setiap malam kurindukan Ka'bah MU
Setiap detik kurindukan panggilan MU
Ingin rasanya tiba disana
Bila ternyata disana rasa yang nikmat ini akan semakin nikmat

Ternyata inilah Cinta itu ...
Nikmatnya sungguh tak terkira
Indah dunia memancar dari dalam dada
Bahagia sungguh tak terkira

Sungguh berbeda ...
Cinta manusia dengan Cinta MU
Rasanya tak sudi melepas sedetik saja
Berpaling kemanakah wajahku,
Jika Engkau hadir di setiap penjuru mata angin

Nikmat yang sungguh tiada banding
Air mata yang sungguh tiada henti
Jika Madinah bisa membuatku semakin dekat pada MU
Maka tariklah ruh ku disana dan masukkan aku ke dalam SurgaMU
Dudukkan aku disisi Rasulullah ...
Agar dapat kupandangi seluruh wajahMU dengan segenap Cinta

Friday, June 22, 2007

HIJRAH


Bismillahirrahmanirrahiiim

Ya Rabbi sudilah pandang kami
Terangi jalan gelap ini
Jangan biarkan aku terus sendiri
Mencari, Mendaki dan berduri
Yaa Rabbi dengarlah doaku ya Rabbi
Hadirlah dalam kehidupan kematian kami
(Doaku - Haddad Alwi + padi)

Satu langkah kami mendekat pada MU
Seribu langkah Engkau hadir memperlihatkan Eksistensi
Sungguh Al-Qur'an itu pembawa kebahagiaan
Dan ketika aku membukanya, maka terbukalah segala pintu

Ya Allah ...
Hati yang bagaimana ini?
Aku belum pernah merasakan hati seperti ini ...
Sehingga aku sangat takut, suatu saat aku akan kehilangan rasa ini
Aku papa ... tapi aku merasa cukup
Aku hina ... tapi aku merasa tidak apa-apa
Aku lelah ... tapi aku merasa puas
Aku sendiri ... tapi aku merasa banyak

Ya Allah ...
Inikah rasanya cinta?
Aku tidak dapat melepaskan pikiranku dari Rasulullah dan dari MU zat yang Agung
Inikah rasanya bahagia?
Aku berurai air mata setiap mendengar nama Mu dan nama Rasul Mu disebut
Inikah rasanya nikmat?
Hatiku rasanya lembuuut dan kosong ...

Ya Allah ...
Berapakah sisa usiaku untuk menikmati rasa ini?
Berapakah sisa usiaku untuk mengabdi?
Berapakah sisa usiaku untuk mengumpulkan bekalku?
Aku takut ... kehilangan rasa cinta ini
Aku takut ... pengabdiaku tidak berarti bagimu
Aku takut ... bekalku ternyata tidak cukup
Untuk membuka pintu surgaMu dan melapangkan kuburku

Ya Allah ...
Izinkan hamba senantiasa dalam rasa ini ...
Hamba akan mengHamba dengan sesungguh-sungguhnya pada MU
Zat yang Maha Mulia

Terimalah Hijrah hamba Mu yang hina ini ...
Hamba tinggalkan dunia dan hiruk pikuknya ...
Hamba masuki kediaman Mu dengan terlebih dahulu menahan ucapan hamba
Hamba masuki kediaman Mu dengan memperbaiki ibadah hamba
Hamba masuki kediaman Mu dengan memperbaiki tingkah laku hamba

Terimalah hijrah manusia yang hina ini ya Allah
...

Jawaban dari Nya


Ternyata inilah jawabannya ...
Jawaban dari ribuan pertanyaan yang berkelebat beberapa tahun lalu
Mengapa ada orang-orang yang begitu Zuhut,
Hidup sederhana dan tawadhu ...
Hidup dengan senyuman meskipun makan hanya sekali sehari
Hidup dengan pancaran diri, meskipun kemana-mana berjalan kaki
Hidup dengan tawadhu dan kelapangan hati

Aku hinakan mereka dengan menyebut orang yang tidak punya motivasi
Aku hinakan mereka dengan menyebut orang yang miskin
Aku hinakan mereka dengan menyebut orang yang lemah

Sungguh Ya Allah ...
Hari ini dan beberapa waktu ini aku merenung ...
HambaMu yang hina ini sungguh-sungguh Hina
Terkutuklah aku yang telah mencela tanpa mampu menjaga
Sesungguhnya selama ini aku menduga bahwa aku telah cukup beriman ...
Dimana Riya yang besar itu telah mengurung jiwaku
Dalam banyaknya dosa yang telah mengalungi kepalaku
Ketika kesombongan membaluti hatiku ...
Aku malu ya Allah ...

Rasulullah hadir dalam impianku ...
Setiap mengingatnya kini hati ku menangis ...
Aku rindu ya Allah ...
Melebihi rinduku pada sang bunda dan anak-anakku ...
Hanya shalawat yang mampu kukirim ...

Ya Allah ...
Cintailah aku ... ya Allah ...
Malam-malam heningku hanya untuk Mu
Pengabdianku pada suami, anak-anak dan orangtuaku adalah untuk Mu
Jadikan aku hadiah yang terbaik bagimu
Bila para fii Sabilillah memiliki pedang
Aku tidak memiliki apa-apa untuk ku abdikan pada Mu

Kini barulah aku mengerti
Mengapa mereka melepas nyawa untuk perjuangan itu
Betapa dengan bangga mereka mengabdi dalam kemiskinan untuk meraih cinta Mu
Kini aku baru mengerti bahwa
Senyum dan pancaran sinar itu ternyata pancaran kebahagiaan
karena memiliki kekasih yang Maha pengasih

.....

Monday, June 18, 2007

Malam Pertama di Alam Kubur


Begitulah kematian ... tak pernah memilah; tua atau muda, kaya atau miskin. Tak pernah peduli terhadap raja atau budak, menteri atau penguasa sebuah negeri. Kematian melenyapkan kemegahan . Ia datang untuk mengeluarkan manusia dari rotasi kehidupan yang selama ini dijalani. Mengeluarkan seseorang dari istananya, untuk kemudian membenamkannya dalam sempitnya liang lahat. Semua itu dilakukan tanpa meminta ijin terlebih dahulu. (dr buku "malam pertama di alam kubur")

"Ya Allah ... bilakah tiba waktuku?
Terkadang aku rindu pada waktu itu, terkadang aku takut karena bekalku masih sedikit sekali.
Aku sedang berusaha menabung Ya Allah ... bimbinglah aku agar menambah tabungan itu setiap detik hingga tiba waktu itu ... Kasihanilah hamba Ya Rabbi ...

Suatu saat aku ingin mendengar IZRAIL berucap kepada roh ku
"Wahai jiwa yang suci, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah," maka roh ku akan keluar sebagaimana aliran air yang deras.

Sungguh dunia ini hanya tipu daya, "Ya Allah, hadirlah dalam kehidupan dan kematian kami ..." (haddad Alwi & Fadli Padi)

Thursday, May 24, 2007

Pertemuan yang mengosongkan jiwa


Malam itu ketika mengayun-ayun 'Langit' sambil menina bobok-kan dia, aku bersenandung shalawat nabi "Yaa nabi salam alaika" dari Haddad Alwi. Mata yang mengantuk, badan yang letih, jiwa yang kosong, kamar yang gelap, tiba-tiba mengantar pikiran kepada posisi setengah sadar.

Aku merasa berada di wilayah padang pasir bergunung didepan sebuah tenda lusuh yang berdebu terbuat dari kain kanvas yang keras. Angin bertiup menerbangkan debu dan aroma pasir ... sepi, tapi beberapa orang menghampiri dan mempersilahkan aku masuk ke dalam tenda itu. Belum sempat masuk dan tak mampu berucap apa-apa, seorang pria keluar dari tenda itu, aku menemukan senyuman dan pandangan lembutnya, dia menyambut kedatanganku. Pria itu tinggi memakai baju gamis panjang dengan sorban, bajunya berwarna coklat lusuh.

Aku tidak sempat melakukan apa-apa ... aku tersungkur di dalam kamar dengan 'Langit' masih dalam pelukanku. Shalawat itu hanya dalam hitungan detik, peristiwa itu juga mungkin berlangsung satu atau dua detik ketika aku hampir tertidur ...
Aku duduk, air mata kemudian tak mau kompromi, jatuh membasahi tubuh langit yang telah tertidur. Aku meyakini sendiri bahwa sosok lembut itu adalah pria yang kucintai selain suamiku. Pria yang dicintai Khadijah dan dicintai oleh ratusan ribu ummat muslim di dunia ini.

Aku mengenang tangisan rindu yang tak tertahankan ketika lagu itu diperdengarkan pada salah satu sessi dalam training ESQ, ketika itu langit masih dalam kandunganku, isakan yang tiada henti, terbawa hingga hari ini, mengantarkan kerinduanku pada satu sosok manusia yang memiliki kelembutan hati dan semangat juang yang luar biasa.

Hingga kini setiap malam, ketika mengayun-ayun langit, lagu Haddad Alwi itu senantiasa menemani. Dalam shalawat pada lagu yang sama, langit tertidur, dia menyukai lagu itu.
Anak dan ibu, aku larut dalam malam-malam sepi bersama air mata ketika kerinduan kepada Rasulullah menghampiri hati. Doaku selalu "Yaa Allah sampaikan salamku kepada Rasulullah ... Jadikan aku ummat yang berada pada barisan orang-orang yang dicintainya, dan orang-orang yang engkau cintai ya ALLAH"

Friday, January 26, 2007

Bersemi Kembali

Kelahiran sang LANGIT ...
memberi semi pada keberadaan bumi
Bunda yang selama ini menjadi bumi yang letih
Kini kembali bersemi mendapat sinar kekuatan dari langit

Jagad yang menaungi langit
senantiasa membawa berita tentang keberadaan langit
menjaga dan mencintainya
seperti cinta bunda pada mereka berdua

Ketika papi hadir sebagai matahari
Maka matahari yang pernah menyakiti bumi itu
melihat bahwa bumi bersemi kembali
memberi kesuburan dan kemakmuran

Matahari, Bumi, Jagad dan langit
berjalan bersama saling menyayangi
terkadang kita memang mencari
sesuatu yang tidak kita mengerti
tapi ketika kita berbaring berempat
maka hati kita menjadi bulat

Mari saling mencintai
yang sudah lalu tidak perlu disesali
yang akan datang perlu direncanakan
tapi kehidupan berjalan sesuai aturannya
setelah berupaya ... jangan lupa berserah diri padaNYA

Tuesday, May 30, 2006

Perjalanan kerewe



Entah apa artinya kerewe, yang pasti, ketika sedang musim Ospek di SMA, nama ini besar-besar tertulis di dadaku sebagai pemberian dari senior. Ospek tidak pernah menyenangkan, ada penindasan di dalamnya, tapi kenangan yang tersisa, adalah kenangan indah. Menjadi anggota dalam sebuah gank, bercerita, menjadi pusat perhatian, hukuman dalam ruangan guru, menggoda, menertawai, menjahili dan bepergian bersama. Terlalu banyak hal yang indah sehingga bila ingin mengulang sejarah, bagian itu dalam hidupku yang ingin ku ulangi.
Proses tumbuh yang menyenangkan, terutama karena narkoba tidak mendekati kami ketika itu, dan tidak ada rasa benci yang ditanamkan untuk kelompok lain. Persahabatan yang tulus dan saling menyayangi.

Ketika bertemu kembali hampir 15 tahun kemudian, aku mengagumi perkembangan teman-temanku hampir semua menjadi orang-orang yang seperti aku duga ketika kami bersama dulu. Meskipun ada yang perjalanan hidupnya sungguh diluar dugaan. Komunitas SMA Cendana, menjadi bagian dari komunitas ini sungguh membanggakan dan membahagiakan. Meskipun banyak orang menikmati masa-masa SMA-nya tapi aku merasa pengalamanku sungguh istimewa. Teman-temanku sungguh membanggakan, dan mereka tidak ingin saling melupakan. Kesibukan tentu saja ada, tapi siapa yang tega melupakan kenangan indah yang pernah ada? Meskipun tidak mungkin kembali, setidaknya kami ingin kembali memberikan kejutan-kejutan indah dalam hati ketika mengenang setiap detil sejarah dan mengenang persepsi sahabat-sahabat atas peristiwa yang dilalui itu.

Melamun sendiri ketika jam makan siang di Twin Palm Menara Jamsostek lantai 9, diterpa tiupan angin aku menyaksikan sekelompok orang tertawa-tawa dalam cerita mereka. Aku mengenang setiap kesenangan yang pernah kulalui dalam Komunitas SMA Cendana dan seperti sahabat-sahabat yang lain aku tidak akan rela melewatkan pertemuan dengan mereka begitu saja.

Friday, May 19, 2006

Enam Tahun, 20 mei 2006

Baru enam tahun ..
Usia kita masih pendek, belum teruji, belum pasti
Tapi kita yakin kita bisa tetap melangkah

Aku tersenyum setiap mengenang kelucuanmu
Aku kesal setiap mengenang kejelekanmu
Aku meradang setiap melihat ketidakpedulianmu
Dan aku merasa ... aku ingin tetap bersamamu

Ingin menjalani hidup bersamamu hingga batasnya nanti
Ingin menjalani hari bersama anak-anak kita
Ingin bertengkar dan bercanda seperti hari-hari yang kita jalani
Mari kita lewati tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang ...

Aku tidak punya hadiah istimewa kecuali tulisanku ini
Aku berharap engkau tetap ada dalam relung hatiku,
setiap kali ada kesempatan untuk berkhianat, deringan telephone dari mu menjagaku
Aku setia padamu, karena aku ingin setia ...

Suamiku, papi dari anak-anakku
semoga kita diberi umur cukup banyak untuk membesarkan anak-anak kita ...

Puzzle, 20

Indah, itulah yang aku rasakan ketika sahabatku bercerita bahwa salah satu dosennya pernah bercerita mengenai Puzzle. Dosen psikologi UI itu senantiasa bercerita dengan perasaannya sehingga sahabatku-pun menerima cerita itu dengan rasa.

Bercerita mengenai pasangan, hidup bersama pasangan itu seperti menyusun kepingan puzzle dalam hati kita, satu persatu kepingan puzzle itu diletakkan ditempatnya. Untuk menyusun puzzle tersebut dibutuhkan 50 kepingan, ternyata ketika kita menyusunnya kita menemukan hanya ada 49 kepingan yang bisa dipasang, sedangan satu keping lagi tidak dimiliki oleh pasangan kita. Kepingan terakhir itu tidak pernah ditemukan hingga tiba-tiba seseorang hadir dan dia memberikan kepingan terakhir itu. Kepingan terakhir itu jumlahnya hanya satu tapi seolah-olah orang ketiga yang hadir tersebut telah melengkapi dan memberi kesempurnaan atas seluruh puzzle yang harus dibentuk. Hanya karena satu kepingan tersebut, orang sering lupa bahwa dia telah memiliki 49 kepingan puzzle lainnya dari pasangan hidupnya.

Aku sedang menata puzzle di hatiku, aku pernah memiliki seseorang yang bisa memberikan satu kepingan puzzle yang tak bisa diberikan suamiku, dan ketika aku bertanya, mengapa aku bermimpi? temanku berkata, aku sedang mencari kepingan puzzle itu ...
Terimakasih atas ceritamu sahabat, aku tidak membutuhkan kepingan puzzle itu, aku akan terima bentuk puzzleku apa adanya. Dan bila naluri kebutuhan itu memanggilku aku akan menjawabnya sendiri. Dia bukan lagi pemilik kepingan puzzle itu, aku bisa menemukannya dari sahabat-sahabatku, hanya kebutuhan bercerita dan membangun theory, banyak yang bisa aku ajak berdiskusi, dan perlahan-lahan suamiku juga mulai mau mendengarkan celotehku meskipun waktunya begitu pendek untuk mendengarkan teori-teoriku.... :-)

Monday, May 01, 2006

Jagad


Jagad yang bergembira seperti cuaca cerah
Paginya merekah
Siangnya tidak panas
Sorenya indah
Malamnya bintang terlihat jelas

Jagad yang bersedih seperti musim hujan yang tiba-tiba datang
Tanpa diduga air mengalir deras
Membawa hanyut rasa dan kekhawatiran
Terkadang merusak dan menimbulkan rasa kasihan

Jagad yang marah seperti gunung meletus
Melelehkan apa yang ada disekitarnya
Menarik perhatian dunia
Tak ada yang sanggup berargumentasi

Jagad yang penyayang seperti pagi yang penuh embun
Memeluk dengan lembut
Mengecup dengan segenap rasa
Memandang dengan kasih sayang
Memberikan seluruh kesejukan

Jagad ... mengingatmu seperti memberi peringatan
Akan rasa syukur yang harus kami panjatkan
atas kehadiranmu dalam hari-hari kami

Monday, March 27, 2006

Jutek

Katanya karena hormon, perasaan jadi jelek banget selama hamil ini. Perasaan kesal, cape dan hampa jadi berlebih-lebihan. Semua buku kehamilan berusaha meyakinkan kalau itu akibat perubahan hormon tapi aku yakin dari dasar diriku semua itu sudah ada dan sekarang menjadi lebih besar. Mengapa harus kesal? Entahlah aku sedih sendiri melihat tanganku banyak menolak peminta-minta di stasiun yang biasanya menerima sedikit uluran tangan. Pelit dan tidak ada rasa kasihan, berpikir-pikir sendiri, aku bingung dengan sikapku.
Tapi rasa sayang pada jagad jadi berlebih-lebihan, barangkali ada sedikit perasaan khawatir kalau nanti adiknya hadir perhatianku pada jagad jadi berkurang, meskipun aku bertekad itu tidak akan terjadi.
Ada rasa khawatir kejadian hampir 5 tahun silam terulang kembali setelah hampir tiga bulan, ternyata ketika periksa kembali ke dokter, dokter memberi kabar mengecewakan bahwa sang harapan tidak berkembang dan harus di kuretase. Menunggu waktu kontrol lagi masih lama, tapi rasa penasaran tidak bisa hilang. Semoga semua lancar, dan mau tidak mau harus memaksakan diri untuk tidak Jutek selama hamil ini

Friday, March 24, 2006

Menjelang tiga bulan

Benar jag, perut bunda membesar karena di dalamnya ada adek nak. Insyaallah bulan oktober nanti adeknya lahir, abang senang nggak? Pria mungil bermata indah mengerjapkan matanya yang bersinar sembari berpikir. Aku senang, aku senang, nanti adeknya aku kasih nama sepontan. Hah, kok spontan sih? iya, aku senang namanya spontan.
Coba aku dengar suaranya bunda. Eeeek, nah tu adeknya eek kali. Ha....ha... ha, nanti keluar eeknya dimana bun? aku jijik ah... Abang mau bantuin bunda nanti kalau adeknya udah lahir? Bantuin apa? Ngasih susu, gendong adek, sama jagain kalau bunda lagi ke kantor. Aku kan sekolah. Iya, kalau abang udah pulang sekolah. Aku mau kasih susu adek, tapi aku juga mau gendong. Emangnya abang bisa gendong. Franklin bisa gendong adeknya, ya aku juga laaah. Abang sayang nggak sama adeknya? Ya iyalah ...

Setiap malam dia memeluk perutku dan mendengarkan suara-suara, lalu meminta sesuatu ... Bun, ceritain waktu aku diperut bunda, aku mau masuk lagi ke perut bunda ya ... Jangan bang, nanti sempit, adeknya mau dimana kalau abang masuk perut bunda lagi? Dulu waktu abang masih diperut bunda kalau perutnya kena sinar matahari abang pasti bergerak-gerak, juga kalau perutnya digelitik pasti abang tangannya nyodok ke sana sini. Matanya bergerak-gerak, hidungnya kembang kempis dan senyum jahilnya mengembang diwajah yang lucu itu. Kok adek aku diam aja bunda. Ya dia masih sebesar jari telunjuk ini, kita belum bisa liat dia gerak, nanti kalau sudah sebesar ini baru deh ....

Jagad masih menanti kehadiran adiknya ... Doa kan semua lancar aja ya nak ...

Thursday, February 16, 2006

Indah Namamu

Saat aku jauh
menjelang tidurku
Aroma nafasmu berputar
dan aku rindu

Bulat matamu
cemberutmu
dan kerlipan matamu
saat menangis ...

Keindahan yang dititipkan Allah
Membuat hatiku selalu rindu
Barangkali karena rindu itu
Hatiku menjadi padu

Namamu Cakrawala Jagad Semesta
Luaskanlah pikirannya seluas Cakrawala
Luaskanlah hatinya seluas Jagad
Luaskanlah rezekinya seluas Semesta
Doa itu senantiasa aku bisikkan pada ALLAH

Bahagialah hidupmu anakku
Sepenuhnya kami berserah diri pada ALLAH
Seberapapun batas usia kita bertemu
Sepanjang itu kami akan berupaya untukmu

Kekasih hati kami
Bila kelak ALLAH mempercayai adik untukmu
Kami berjanji tetap menjadi kekasihmu
Mari Nak, kita bersama membimbing adikmu

Engkaulah Teladan sayang
Jadilah yang paling mulia
Keindahanmu akan tetap terpelihara
Bila kasih sayang masih menyertai setiap sikapmu

Cakrawala Jagad Semesta
Doa malam Bunda
Kecupan malam papi
dan kemarahan kami diwaktu siang
adalah kasih sayang kami untukmu

Tetaplah menjadi bintang di hati kami

Tuesday, February 07, 2006

Penghinaan itu

Pagi ini di stasiun kereta, berita yang aku baca membuat hatiku perih. Betapa rasa cinta yang ada telah merobek kerukunan yang sebelumnya ada. Siapa yang tidak meradang bila dihina. Dari kecil kami mengenal nabi sebagai manusia yang mulia, tidak ada wajah, tidak ada sosok, tapi kami percaya dan dia sungguh mulia. Meskipun tidak melihat sosok, tidak mengenal wajah, tapi dari ajarannya kami meyakini Islam. Orang berkata "Seeing is believing" tapi tanpa melihat sosoknya pun kami percaya, tanpa meragukan apa-apa kami menerima keyakinan yang diajarkannya. Islam bukan seperti apa yang digambarkan. Mengapa justru orang yang tidak kenal merasa lebih tau daripada kami. Jangan mencela bila tak tak tau apa-apa, karena bila engkau mengenalnya maka sungguh hatimu akan mencinta. Islam sungguh mengajarkan banyak cinta dan kasih sayang. Mengajarkan umat kerendahan hati. Tapi sekaligus mengajarkan umat untuk bisa membela diri. Tak ada satu orang pun boleh merasa lebih mulia dari yang lain karena kita semua hanyalah manusia. Tapi nabi orang yang memaafkan, aku memilih untuk memaafkan, aku meminta agar mereka diberi petunjuk dihatinya. Semoga upaya mereka mencari sosok nabi mengantarkan mereka pada penemuan akan keindahan Islam.

Wednesday, February 01, 2006

Pria yang Gelisah

Kegelisahannya telah mengganggu
Hampir separuh hidupnya barangkali
Sehingga tak ada yang mampu
Memberi tau bahwa itu hanya ada dalam diri

Tidur malamnya diganggu mimpi
Siang harinya diganggu sepi
Apa yang harus dicari
Dia sendiri tak pernah mengerti

Berjalan, berlari bahkan mengejar
Tidak mengerti mengapa begitu sukar

Malam dia kunjungi berhari-hari
Siang dia lewati berminggu-minggu
Amarah dia tumpahkan bertubi-tubi
Tawa dia tunggu-tunggu

Aku rangkul dalam pelukku
Dia menangis dalam syahdu
Maaf dia mintakan dariku
Bagiku hal itu tiada perlu

Dengan indah pula dia
Mampu mengutarakan cinta
Dengan kasih sayang pula
Dia merengkuh sang Jagad dengan cinta

Kuharap hilang gelisah dari hatinya
Semua itu hanya dari kesombongan lelaki
Tak bisa menerima
Bahwa kodrati memang tak bisa diganti

Alam adalah alam
Akupun harus mengerti
Bahwa setiap lelaki
Tetap punya kesombongan sendiri

Aku nikahi engkau karena cinta
Bukan karena harta
Kita memang tak punya apa-apa
Tapi mari saling menjaga

Friday, January 27, 2006

Kekhawatiran Mama

Tadi malam,
suara mama tersedu menyentuh kalbuku
"mama ingat nanda ... " bisiknya
"Nanda baik-baik aja nak?"

Tentu saja aku tersenyum
Sesungguhnya aku sedang melamun
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan
Tidak ada yang perlu dicemaskan

Gundahku juga mengenai hal yang sama
Berkali-kali aku berpikir mengenai duka
Lara yang memang dimiliki manusia
Resah yang memang ada dalam dada

Kematian adalah kewajiban
Tapi siapa yang mendapat tiket pertama
Kematian tidak ada urutan
Besok aku atau dia ?

Dengan siapa jagad akan bercanda
Dengan siapa suamiku akan bercerita
Pada siapa orang tua bertanya
Pada siapa saudara meminta

Aku ingin hidup seribu tahun lagi
begitu kata khairil anwar
Aku tidak ingin hidup seribu tahun lagi
cukuplah bila semua terlihat wajar

Yang muda mendahului yang tua
Adalah rasa sakit yang tersisa
Bila yang tua tiba masanya
Yang muda lebih siap menerimanya

Setiap hari aku menanti
Apakah hari ini adalah hariku ?
Setiap hari ada saja yang pergi
Hingga tiba masa itu ...

Jangan resah mama ...
Kita semua akan kesana,
Siap atau tidak siap kita ...
Ingat saja disana ada surga ...

Wednesday, January 25, 2006

Pertemuan para Sahabat

Sahabat ...
Hari ini aku merindukan setiap tawamu
Hari ini aku merindukan tatapan matamu
Hari ini aku merindukan ceritamu

Ingatlah setiap tawa yang kita bagi
Saat tak ada beban mendera hati
Ingatlah setiap duka yang kita bagi
Saat bunda dan saudara tak ada disini

Ketika menjelang dewasa aku mengenal Yessy
Kepolosannya sering menjadi tertawaanku
Kecantikannya menumbuhkan rasa iriku
Kebaikan hatinya menjadi guruku
Kami bercerita dalam bahasa ibu
Bahkan bunda kami berdua mengaku
bahwa kami adalah satu ibu
Tumbuh menjadi dewasa bukan anganku
Tapi yessy mengajakku
Hingga setiap aku berdandan aku teringat sahabatku
Yessy masih ada disini menjadi bagian dari kalbu

Saat yang ada hanya diri sendiri
Allah mempertemukanku dengan Yaniarti
Ketika aku menatapnya aku seperti menatap diri sendiri
Tawanya menggelegar dan gerak tangannya harmoni
Aku dan yani seperti satu bentuk
Ketika orang bertemu yani mereka akan bertanya tentangku
begitu pula bila bertemuku akan bertanya tentangnya
Bahkan hingga menjalani pernikahan ini
Kami banyak menertawakan betapa kembarnya kisah kami
Yani seperti aku, kami adalah awan
Bergerak, meniup dan tidak pernah berhenti
Semangat tidak pernah menyerah ada dalam diri kami
Yani senantiasa disini didalam hati

Ketika menjadi manusia dewasa
Aku mengenal Ayin
Wanita cantik dan eksklusif
Manja dan ramah, dengan
Rambut blonde yang jadi kebanggannya
Bersahabat dengan ayin
Seperti bersahabat dengan selebritis
Dia mengenal hampir banyak orang yang tidak aku kenal
Ayin menjadi dosenku
Sekaligus tempat berkeluh kesah tentang kerja
Ayin yang repot, Ayin yang super sibuk
Ayin dan aku berbagi berita dan cerita
Sekali waktu kami mencuri jam kerja
Untuk Ha ... Ha... hi ... hi ... bersama
Aku dan masa laluku
Ayin dan masa lalunya
Ayin senantiasa ada, bagi jiwa

Seperti ku
ketiga sahabatku
memiliki rahasia
hanya kami yang mengetahuinya

Seperti ku
ketiga sahabatku
membagi cintanya
untuk suami dan putra putri tercinta

Ketiga sahabatku kelak akan bertemu
Ketika mengantarkan jasadku
Pemakaman menjadi tempat pertemuan
Dan mereka akan melanjutkan persahabatan

Wednesday, January 18, 2006

Warna Warni Kereta Pagi

Senantiasa warna warni yang disodorkan padaku pagi hari memberi nuansa sendiri di hati. Anehnya aku yang tidak menyukai keseragaman belakangan mulai memahami asik dan lucunya keseragaman yang tidak dipaksakan.
Hampir setiap pagi kereta Depok - Tanah Abang yang aku tunggu bersama ratusan karyawan lainnya terlambat datang. Aku yang pada awalnya hanya mencari-cari pola yang ada dengan mudahnya menghafal segala ritual yang aku ciptakan sendiri dan juga dimiliki oleh yang lainnya. Turun dari mobil berlari ke loket, memberikan senyuman pada petugas loket yang dengan sigap memberikan tiket dan memberitakan kereta sedang berada dimana ucapan terimakasihku dijawab dengan kalimat hati-hati .. hmmm, lalu memberikan sisa uang tiket kepada peminta-minta, melompati tangga di atas sudah menunggu pedagang koran langganan yang dengan sigap juga memberitakan kereta sudah berada dimana sembari memberikan kembalian. Pedagang nasi uduk atau lontong sayur menerima kehadiranku dengan pelayanan ekspress, makan pagi dengan nikmat ketika kereta datang aku dengan sigap melompat ke dalam kereta, dan seperti biasa ... aku memilih tidak berebut untuk mendapatkan kursi. Kereta bergerak menuju stasiun Sudirman... hhhhh kerja lagi
Hal yang menyenangkan adalah aku tidak sendiri melakukan hal yang sama setiap pagi. Aku bahkan hafal orang-orang yang suka memilih gerbong depan bersama ku. Dan orang-orang yang suka memilih gerbong belakang tapi pindah ke gerbong depan ketika kereta mendekati Stasiun Sudirman. Aku tidak banyak membangun relasi meskipun setiap hari bertemu.
Aku justru kagum pada sahabatku yang bernama Joan. Hampir setiap aku bertemu dia sedang dengan seorang teman lainnya yang tidak satu kantor dengan kami. Setiap hari suaranya yang besar menggelar perbincangan hangat dengan orang-orang satu gerbong yang berbeda kantor. Hebat sekali relasi yang dibangunnya hingga dia membuatku merasa minder berada di gerbong yang sama.
Ketika musim hujan turun, ac kereta tidak berkurang kekuatannya. Kehangatan nafas dikalahkan oleh udara dingin dan mungkin itu yang menyebabkan keseragaman pola berpakaian juga disesuaikan oleh para penumpang kereta. Musim panas, baju-baju santai dan blazer tipis. Musim hujan, sweater hangat, jaket dan blazer menjamur.
Pola aktivitas, bacaan, cerita, pakaian dan makanan yang sama membuat aku hafal apa yang akan aku temui besok di stasiun kereta. Bahkan peminta-minta hafal giliran siapa besok yang akan memperoleh sesuatu dari jemariku tanpa terlihat iri mereka melemparkan senyum
Indahnya kehidupan berkereta, membuatku bisa melupakan ketinggian hati, bisa membuatku merasa aman dengan kepastian yang ada. Keterlambatan itu sudah pasti, kereta rusak itu istimewa karena selalu ada cerita menarik ketika sedang mengamati orang-orang.

Monday, January 16, 2006

Cinta yang Mulia

Mendung tebal ini membawa mendung di hati
Mendung tebal ini juga membawa cemas di hati
ketika hampa hati membawa diri
terombang ambing dalam jejak sendiri

Begitulah rasa berfluktuasi
seperti naik turunnya iman
ketika cinta, cinta dan cinta
apa yang ada di dada segera bergelora

Gelora cinta pada dia
lalu melanjutkan aliran pada dia
tiba pada dia
akhirnya menemukan dia

Tapi masih ada dia yang lain
siapa itu yang ikut mengetuk
sehingga kepalaku menoleh
terpaku pada aliran rasa yang berbeda pula

Pencarian itu tiba-tiba
sampai pada rasa cinta
yang paling mulia

Kutemukan pada malam
ketika sujud tahajjud
aku merasakan CintaNya

Saksikan pagi anakku

Subuh yang indah
Saat matahari menyeruak masuk
Saat rasa dingin berganti hangat
Saat bising suara kendaraan mulai memecah kesunyian

Gedung-gedung itu tertutup
Entah kabut, entah asap polusi
Tapi pagi yang indah memunculkan bayangan gedung
Serupa siluet berwarna abu-abu muda

Pagi menyeruak di Jakarta
Beberapa saat lagi jalanan di bawah gedung ini akan dibanjiri kendaraan
Jakarta yang tak pernah berhenti
Seperti waktu yang belum juga berhenti

Bila saatnya waktuku terhenti
Aku tak lagi menemukan pagi
Aku berpesan pada putraku
Saksikanlah kehadiran pagi setiap hari
Karena geliat pagi akan memberi mu semangat
Untuk meraih rezeki hari ini

(Pagi jam setengah enam sebelum berangkat ke Anyer, wisma mulia lt.17 16 maret 2005)

Jari jemari

Jari jemari itu indah ...
Putih bersih dan bergerak berirama
seiring intonasi suara yang bergerak naik turun
lembut membuyarkan konsentrasiku

Aku adalah kupu-kupu
yang ingin menyentuh jari jemari itu
sekedar beristirahat
dan melanjutkan perjalananku

Dalam irama rindu sendiri
perjalanan yang panjang
pencarian yang tiada akhir
Dimana tempatku beristirahat?

Aku hanyalah kupu-kupu
umur singkatku
tidak memberiku kesempatan
merasakan lembutnya jemari

Selamat tinggal jemari yang indah
Melihat dari kejauhan saja sudah cukup bagiku
karena aku hanya kupu-kupu
dan kupu-kupu tidak berhak atas jemarimu

Friday, January 13, 2006

Pijar Kaki Langit

Bila kelak ada seorang bayi lagi terlahir dari rahimku,
pijar kaki langit aku pilihkan untuk namanya
pijar yang menjadi cahaya di batas kaki langit yang tidak terlihat
Doaku adalah anak ku kelak menjadi cahaya

Indahnya cahaya adalah bias bias warna yang berpendar
berpadu memberikan petunjuk atas kegelapan
menapaki jalan dalam hiasan cahaya
yang berasal dari pijar